Setelah menonton serial musikal Nurbaya, aku juga menonton serial musikal Payung Fantasi. Serial musikal ini menceritakan kisah hidup Ismail Marzuki, pemusik lokal legendaris, sekaligus seorang Pahlawan Nasional yang menciptakan banyak lagu selama masa penjajahan (dan sesudahnya). Judul serial ini diambil dari salah satu judul lagu ciptaan Ismail Marzuki. Serial musikal ini juga dikemas dalam 6 episode dengan rata-rata durasi 30 menit. Ismail Marzuki diperankan oleh Gusty Pratama.
Berbeda dengan serial musikal Nurbaya, Payung Fantasi jauh didominasi dengan lagu. Serial ini kurang cocok bagi beberapa orang yang tidak begitu menyukai konsep musikal dalam sebuah pertunjukan (teater, drama, atau serial). Karena, jumlah lagunya yang (bisa kubilang) sangat banyak. Mungkin, karena tokoh utamanya merupakan seorang pemusik. Jadi, selain lagu-lagu yang memang diciptakan untuk serial musikal ini, ada lagu-lagu ciptaan Ismail Marzuki yang juga dinyanyikan selama serial berlangsung.
Di serial ini, lagu-lagunya bernuansa nasionalisme dan semangat perjuangan di masa penjajahan. Ya, selain karena seorang Ismail Marzuki memang banyak menciptakan lagu untuk "membakar" semangat juang rakyat pada masa itu, latar belakang utama serial ini adalah masa penjajahan. Tentu, lagu-lagu yang dihadirkan juga akan bertemakan hal serupa. Tapi, ada pula penampilan Lief Java—seperti Keroncong Pasar Gambir—yang menghadirkan musik keroncong dan Hanya Semalam yang mempertemukan Afgan dan Sal Priadi (dan Gusty Pratama tentunya) dalam satu scene yang sama. Lagu-lagu tersebut membawa suasana yang cukup menyegarkan di serial ini.
Dua lagu favoritku di serial ini adalah O Sarinah dan Sabda Alam yang merupakan ciptaan Ismail Marzuki. O Sarinah dibawakan di episode pertama oleh Gusty Pratama dan teman-teman Lief Java. Lagu ini menjadi lagu pertama yang diciptakan Ismail Marzuki, beliau terinspirasi dari seorang gadis desa yang tertindas oleh penjajah. Sedang Sabda Alam dimainkan ketika Ismail Marzuki sedang cekcok dengan istrinya, Eulis. Lagu ini membahas mengenai posisi pria yang sering dianggap lebih tinggi dibanding wanita. Dibawakan dengan konsep yang begitu unik, Sabda Alam benar-benar terasa beda dibanding lagu-lagu yang lain.
Salah satu hal yang baru kusadari (dan sepertinya sangat telat), Indonesia Kaya selalu menghadirkan sosok-sosok yang multitalenta. Semua pemeran di serial musikalnya, baik Nurbaya maupun Payung Fantasi memang memiliki kemampuan vokal, tari, dan akting yang apik. Bukan cuma karena rekaman suara, ya. Tapi mereka-mereka semua memang bisa bernyanyi dengan baik. Sosok-sosok seperti Gallaby atau Bima Zeno, yang berturut-turut hadir dia serial musikal Nurbaya dan Payung Fantasi, mungkin kemampuan mereka sudah jadi "langganan" Indonesia Kaya. Lewat audisi Mentjari Bang Maing & Djoewita (untuk serial musikal Payung Fantasi) atau Mencari Siti (untuk serial musikal Nurbaya), Indonesia Kaya sukses menyaring talenta-talenta dari seniman Indonesia.
Sampai jumpa di serial musikal berikutnya!